Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. Rasulullah s.a.w bersabda: ....sesiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia memuliakan tamunya. Allah melalui nabi Muhammad s.a.w memerintahkan kepada ummat-Nya, yang (merasa dan mengaku) beriman kepada Allah dan Hari Kiamat untuk memuliakan tamu. Beberapa kali Hadist seperti itu disebutkan oleh Nabi Muhammad s.a.w diantaranya menurut riwayat Abu Syuraih al-Khuza'iy r.a.
Menurut Kamus Bahasa Indonesia, tamu adalah orang yang datang (sengaja atau tidak sengaja) untuk menemui penghuni rumah atau salah satu isi penghuni rumah dengan maksud dan tujuan tertentu.
Tamu, (secara pasti) datang dengan maksud dan tujuan tertentu. Dalam konteks inilah kenapa Allah dengan tegas membuat timbangan yang begitu besar (yaitu) memuliakan Tamu nilainya Sejajar dengan Beriman Kepada Allah dan Hari Kemudian (kiamat).
Atau dengan bahasa lain, belumlah disebut beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, selama ia tidak memuliakan tamunya.
Apabila tamu datang, bagaimanapun bentuk dan rupa tamu itu, siapapun dia (selama tidak berniat mencelakakan), kaya, miskin, muslim atau non muslim, maka diperintahkan oleh Allah untuk memuliakannya.
Mengapa?
Dalam sejarah, Nabi Sulaeman AS pernah ditegur oleh Allah SWT, karena pada saat beliau didatangi tamu dari kaum kafir, beliau tidak sepenuh hati memuliakan tamunya itu. Beliau merasa tidak perlu memuliakan dan menghargai tamunya itu seperti beliau memuliakan dan menghargai tamunya dari sesama muslim. Toh dia bukan ummatku yang beriman, begitu fikir beliau. Beliau hanya memberinya minum dan berkata seadanya.
Setelah tamu itu pulang, datanglah malaikat Jibril menyampaikan teguran Allah.
"Wahai Nabiullah, Allah menegurmu mengapa engkau perlakukan tamu seperti itu"
"Bukankah dia (tamu itu) dari golongan kafir?" Nabi Sulaeman menjawab.
"Wahai, nabiullah. Siapakah yang menciptakan Langit dan Bumi ini?" Malaikan Jibril bertanya.
"Allah!" Jawab Nabi Sulaeman yakin.
"Siapakah yang menciptakan malaikat, jin dan manusia?"
"Allah!"
"Siapakah yang menciptakan tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan?"
"Allah!"
"Siapakah yang menciptakan orang kafir itu?"
"Allah!"
"Lalu, berhakkah engkau berlaku tidak adil terhadap ciptaan Allah? Sementara Allah adalah zat Yang Maha Adil?"
Nabi Sulaeman AS terdiam dan langsung bersujud.
"Ya, Allah! Ampunilah hambaMu yang sudah berbuat zalim ini"
"Wahai nabiullah, datangilah dan minta maaflah pada orang itu. Ampunan Allah tergantung maafnya" Malaikat Jibril menyampaikan wahyu Allah.
Bergegaslah Nabi Sulaeman mencari tamunya tadi.
Setelah bertanya-tanya dan mencari-cari, ternyata, tamunya tadi sudah jauh berjalan meninggalkan kota.
Nabi Sulaeman AS dengan bergegas mengejar tamunya tadi.
Setelah bertemu, masih dengan nafas yang terengah-engah, beliau berkata:
"Saudara, tunggu...!"
Tamunya tadi menoleh dan heran melihat Nabi Sulaeman.
"Ada apa?"
"Saudara... sudikah engkau memaafkan perlakuan saya, saat saudara menjadi tamu di rumahku?"
Orang itu diam. Dalam hatinya, sebenarnya dia merasa pantas diberlakukan seperti itu, karena dia memang bukan masuk dalam golongan Nabi Sulaeman. Dia tidak masuk ke dalam ajaran Tauhid yang dibawa Nabi Sulaeman. Dia dari golongan lain. Tapi dia bertanya:
"Kenapa, wahai Sulaeman?"
"Allah menegurku, setelah engkau pulang dari kediamanku."
"Allah? Siapakah dia?" orang itu masih bertanya.
"Allah adalah Tuhan, Tuhan Kami dan Tuhan Engkau, Yang menciptakan langit dan bumi, dan semua isinya. Dia yang menciptakan malaikat, jin dan manusia. Dia Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya."
"Lalu, kenapa Dia menegurmu?"
"Allah menegurku, karena aku sudah tidak berlaku adil terhadapmu. aku tidak memuliakanmu. Allah yang Maha Kuasa selalu bersifat adil terhadap semua hamba dan ciptaanNya, mengapa aku berlaku tidak adil terhadapmu?"
"Sebegitukah Tuhanmu wahai Sulaeman, memperlakukan aku, walaupun aku bukan dari golonganmu?" orang itu bertanya meyakinkan.
"Iya...! Maafkan sikapku tadi wahai Saudara, ampunan Allah tergantung maafmu" Nabi Sulaeman meminta.
"Saksikanlah, wahai Sulaeman! Ashaduallah ila ha illallah, Wa anta Rasulullah!" Orang itu memeluk nabi Sulaeman AS. Nabi Sulaeman pun memeluk dengan haru saudara barunya itu...
Senin, 22 Maret 2004. Ya Allah, ampuni dosa hambaMu ini bila telah bertamu tidak pada saat yang tepat. Nenk, maafkan kakak yang datang ke rumahmu pada saat mimi sedang kurang enak hati


1 Comments:
At 2:41 AM,
Unknown said…
Mohon disertakan sumber yg shahih dari kisah yg menceritakan tentang tamu Nabi Sulaeman. Jzkl
Post a Comment
<< Home